
Terdesak Kebutuhan Ekonomi, Janda Muda Nyambi Jadi PSK, Sehari 5 Pria Antre Minta Dilayani
Ilustrasi
Seorang wanita muda sebut saja Leida (18) baru sekitar 1 tahun menjalani praktik prostitusi.
Tak hanya Leida, beberapa wanita lainnya juga membuka praktik yang sama.
Mereka menyewa kamar kontrakan berukuran sekitar 4 x 4 meter di kawasan Grogol, Limo, Kota Depok, Jawa Barat.
Sekilas, orang tidak akan menyangka bila tempat tersebut sebagai tempat melakukan bisnis esek-esek.
Janda muda Leida berusia belasan tahun ini mengaku dirinya bisa melayani 4 sampai 5 pria hidung belang dalam sehari
Untuk satu jam pelayanan ia memasang tarif hanya Rp 300.000 sudah termasuk tempat atau kamar.
Baru satu tahun, wanita berambut sebahu, berkulit cokelat, berwajah tirus, setinggi kurang lebih 165 sentimeter ini menjajakan dirinya di dunia prostitusi.
Awalnya, Leida mengaku diajak teman sehingga bisa terjerumus ke pekerjaan ini.
“Baru setahun, diajak teman sih awalnya,” cerita Leida kepada TribunJakarta.com pada Senin (15/2) malam.
Jarak jalan utama ke kontrakan Leida berkisar 15 meter.
Akses masuknya sangat sempit, cukup muat dilintasi satu unit motor untuk masuk keluar.
Kamar kontrakan Leida juga dipakai dua temannya melayani tamunya masing-masing.
Di kamar berukuran kurang lebih 4 x 4 meter tersebut tersedia dua kasur lipat, bantal, dan guling.
Sekilas sedikit berantakan di kamar dengan tembok berwarna hijau kusam tersebut.
Sejumlah alat rias, beberapa bungkus makanan, dan remah-remahnya, berserakan di sudut lantai.
Sebuah kipas angin berukuran kecil, tak mampu menghilangkan hawa panas dari dalam ruangan tersebut.
Dalam menjajakan layanan prostitusinya, Leida, sama seperti temannya yang lain mempunyai aturan yang harus dipatuhi pelanggan.
Bisa dibilang ada protokolnya.
Kata Leida, satu kali ‘main’ maksimal waktunya selama satu jam.
“Satu kali main ya, maksimal satu jam lah,” kata Leida mengingatkan aturan main kepada pelanggannya.
Sementara saat Leida memberikan layanan kepada tamu, dua temannya menunggu di lorong.
Teman Leida juga sedang menunggu pesan masuk dari tamu yang ingin memakai jasanya.
Lokasi kontrakan Leida terbilang sulit dijangkau.
Terhimpit tembok tetangga kanan kiri.
Hanya satu motor yang bisa masuk untuk menuju kontrakan Leida di paling pojok.
Diketuk setelah sejam
Setelah waktu satu jam berlalu, dari luar sudah terdengar ketukan pintu, tanda agar Leida dan pelanggannya segera berbenah.
Pasalnya, kamar tersebut akan dipakai teman Leida yang baru dapat tamu.
“Buruan, pelanggan gue sudah datang nih. Jangan lama-lama,” begitu katanya.
Keluar dari sana, Leida menawarkan pelanggannya untuk sekadar rehat.
Lebih seringnya ada pelanggan yang suka basa-basi menyoal apa saja.
Kebanyakan Remaja
Selama terjun di bisnis prostitusi, mayoritas pelanggan Leida dari kalangan remaja, hingga pekerja kantoran.
Beda orang beda kemauan.
Pernah satu kali Leida melayani pelanggan yang memperlakukannya kasar dan banyak maunya.
“Banyak minta ganti gaya,” keluh Leida.
Wanita 18 tahun ini mengaku, keretakan rumah tangga orang tuanya di Riau sedikit banyak membuatnya memilih profesi sebagai pekerja seks komersial.
“Orang tua sudah pisah, terus aku ngerantau,”
“Kenalan sana-sini, ya sudah jadi tinggal di sini deh,” kata Leida.
Mudahnya mendapat rupiah, membuat Leida anteng melayani para pria hidung belang yang mencari kepuasan dari orang sepertinya.
“Lumayan kan, sehari bisa (melayani) empat sampai lima lah. Dikalikan saja tuh uangnya,” ucap Leida.
Ia tak lagi memikirkan bangku pendidikan.
Leida hanya tamatan sekolah menengah atas ini hanya berpikir, bagaimana bertahan hidup seorang diri tanpa kasih sayang keluarga.
“Tadinya sudah ngelamar kerja. Tapi gak pernah dipanggil,”
“Lagian juga gajinya gak seberapa kan namanya juga lulusan SMA,” kata dia.
Satu pelanggan berlalu, Leida kembali melirik ponselnya.
Kini, ia siap kembali menebar umpan untuk calon pelanggan berikutnya.
Tak butuh waktu lama, Leida mendapat pelanggan baru.
Ia langsung mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum memberi servis.
sumber: tribunnews.com